Kantor Imigrasi Kelas II Madiun | DIDUGA SALAH GUNAKAN IMTA DAN WORK PERMIT, IMIGRASI MADIUN TANGKAP WARGA NEGARA SRILANKA
22183
single,single-post,postid-22183,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-1.9,wpb-js-composer js-comp-ver-4.4.3,vc_responsive
 

DIDUGA SALAH GUNAKAN IMTA DAN WORK PERMIT, IMIGRASI MADIUN TANGKAP WARGA NEGARA SRILANKA

DIDUGA SALAH GUNAKAN IMTA DAN WORK PERMIT, IMIGRASI MADIUN TANGKAP WARGA NEGARA SRILANKA

Madiun – Jajaran petugas Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas II Madiun berhasil menangkap seorang warga negara Sri Lanka yang diduga telah melanggar Undang-Undang Keimigrasian di wilayah Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, setelah dilakukan pengawasan atas laporan masyarakat mengenai adanya orang asing pada salah satu perusahaan di kawasan tersebut.
Kemarin (7/3), pihak Imigrasi Madiun telah melayangkan surat pemanggilan kepada seorang warga negara Srilanka bernama Amila Srinath Jayathilaka W. M. (32) ke Kantor Imigrasi Kelas II Madiun untuk diperiksa atas dugaan pelanggaran penyalahgunaan dokumen keimigrasian. Ditemani oleh pemilik perusahaan, Khodijah, Amila yang berada di Indonesia sejak November tahun lalu itu diperiksa selama lebih dari 12 jam setelah pihak penyidik menyatakannya sebagai tersangka.
Amila diduga telah melanggar Undang-Undang Keimigrasian Pasal 122 Huruf A UU Nomor 6 Tahun 2011, Dari hasil pemeriksaan, penyidik Kantor Imigrasi Kelas II Madiun, Yanto, meyakini bahwa pria yang bekerja sebagai Quality Adviser (Konsultan Mutu Produk) telah menyalahgunakan Ijin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) dan Visa Kerja (Work Permit) dimana di dalam dua dokumen tersebut disebutkan bahwa dia diberikan ijin untuk bekerja pada perusahaan bernama PT. Bintang Abadi Persada yang beralamat di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.
Hasil Pengawasan pihak Kantor Imigrasi Kelas II Madiun pada tanggal 12 Februari 2016 menunjukkan bahwa Amila tidak bekerja pada perusahaan dimana dia seharusnya bekerja. Petugas menemukan dia bekerja pada PT. Bintang Inti Karya yang beralamat di Kec. Barat, Magetan, Jawa Timur. Sebelumnya pihak Imigrasi Madiun telah mengkonfirmasi kepada Pihak Imigrasi Surakarta mengenai kemungkinan Amila atau perusahaannya telah meminta ijin atas perpindahan kerja ini. Setelah menyita dokumen-dokumen yang diperlukan, pihak Imigrasi Madiun lantas menyelidikinya untuk menentukan apakah ada pelanggaran atau tidak.
Pihak PT. Bintang Abadi Persada (BAP), yang namanya resmi tercantum pada dokumen keimigrasian Amila berdalih bahwa PT. Bintang Inti Karya (BIK) yang merupakan perusahaan sub kontrak PT. BAP, telah mengeluarkan Surat Tugas kepada Amila untuk melakukan pekerjaan pengendalian mutu langsung ke PT. BIK. Pihaknya juga menyatakan bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran yang dituduhkan karena telah melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan dan Amila juga tetap sebagai karyawan PT. BAP, hanya saja keberadaannya sementara waktu berada di PT. BIK untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, penyidik telah memiliki cukup alat bukti yaitu dua dokumen keimigrasian yang mencantumkan nama PT. BAP sebagai tempat dimana Amila bekerja dan rekaman video yang menunjukkan Amila yang sedang bekerja di PT. BIK,kata Yanto.
Saat berita ini diturunkan, Amila telah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun untuk 20 hari ke depan terhitung mulai 7 Maret 2016, sambil menunggu hasil dari permohonan penangguhan penahanan melalui kuasa hukumnya.

No Comments

Post a Comment